Aliran Thariqoh,Tarekat

Friday, December 5, 2014

ALIRAN-ALIRAN THARIQAH



Sejak awal kemunculannya, thariqah terus mengalami perkembangan dan penyebarluasan ke berbagai negeri, sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya aliran-aliran di dalam thariqah. Dalam kitab Dairatul Ma’arif Al-Islamiyah disebutkan ada 163 aliran thariqah, yang salah satu di antaranya mempunyai 17 cabang. Sementara Syaikh Muhammad Taufiq Al-Bakry dalam kitabnya Baitus-Shiddiq, menyebutkan aliran-aliran thariqah di dunia Islam, (yang lama dan yang baru) kurang lebih sekitar 124 aliran thariqah.

Dari sekian banyak aliran tersebut, oleh Jam’iyah Ahli Al Thariqah Al ­Mu’tabaroh An-Nahdliyah dikelompokkan menjadi mu’tabaroh dan ghoi’ru mu’tabaroh. Yang dimaksud Thariqah Mu’tabaroh adalah aliran thariqah yang memiliki sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau menerima dari Malaikat Jibril AS. Dan Malaikat Jibril AS dari Allah SWT. Sehingga dapat diikuti dan dikembangkan, yang jumlahnya – menurut Rais ‘Am, Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya ada-43 aliran thariqah. Sedang Thariqah Ghairu Mu’tabarah adalah aliran thariqah yang tidak memiliki kriteria seperti tersebut diatas, dan jumlahnya adalah sisanya yang ada.

Adapun aliran – aliran thariqah yang dinilai mu’tabaroh itu adalah sebagai berikut;

1. ‘Abbasiyah,                                                  22. Ahmadiyah,

2. Akbariyah,                                                    23. ‘Alawiyah,

3. Baerumiyah,                                                 24. Bakdasyiyah,

4. Bakriyah                                                       25. Bayumiyah,

5. Buhuriyah,                                                   26. Dasuqiyah,

6. Ghoibiyah,                                                    27. Ghozaliyah,

7. Haddadiyah,                                                 28. Hamzawiyah,

8. Idrisiyah,                                                      29. ‘Idrusiyah,

9. ‘Isawiyah,                                                    30. Jalwatiyah,

10. Justiyah,                                                    31. Kal-syaniyah,

11. Khodliriyah,                                                32. Kholwatiyah,

12. Kholidiyah wan-Naqsyabandiyah,              33. Kubrowiyah,

13. Madbuliyah,                                               34. Malamiyah,

14. Maulawiyah,                                               35. Qodiriyah wan-Naqsyabandiyah,

15. Rifa’iyah                                                     36. Rumiyah,

16. Sa’diyah,                                                    37. Samaniyah,

17. Sumbuliyah,                                               38. Sya’baniyah,

18. Syadzaliyah,                                              39. Syathoriyah,

19. Syuhrowiyah,                                             40. Tijaniyah,

20. ‘Umariyah,                                                  41. ‘Usyaqiyah,

21. ‘Utsmaniyah,                                              42. Uwaisiyah dan 43. Zainiyah.

Dalam buku ini tidak akan dijelaskan semua aliran thariqah tersebut, tetapi hanya sebagian kecil saja, yang dipandang lebih awal kemunculannya dan banyak penganutnya di dunia Islam, itu pun hanya sekilas dan secara singkat garis besarnya saja.

Dikutip : http://tasawuf01.wordpress.com
Continue Reading | comments

Terjemah Suluk Linglun Sunan Kalijaga IV



PUPUH VI

DHANDHANGGULA

Episode VI : Sunan Kalijaga menerima wejangan dari Nabi Khidir.

1. Kalau begitu hamba tidak mau keluar dari raga dalam tuan. Sudah nyaman di sini saja. Yang bebas dari segala sengsara derita. Tiada selera makan dan tidur. Tidak merasa ngantuk dan lapar. Tidak harus bersusah payah. Bebas dari rasa pegal dan nyeri. Yang terasa ada hanyalah rasa nikmat dan manfaat. Nabi Khidir memperingatkan : Yang demikian itu tidak boleh kalau tanpa kematian!.

2. Jeng nabi Khidir semakin merasa iba. Kepada pemohon yang meruntuhkan rasa iba. Kata nabi Khidir kalau begitu yang awas sajalah! Terhadap hambatan upaya! Jangan sampai kau kembali! Yang benar memohonnya dan yang waspada! bagimu anggaplah! Kalau sudah kau kuasai! Jangan hanya digunakan dengan dasar bila ingat saja! Karena hal itu sebagai rahasia Allah!.

3. Tidak diperkenankan kalau obrolan! Kepada sesama manusia! Kalau tanpa seizinnya! Sekiranya ada yang akan mempersoalkan. Memperbincangkan masalah ini! Jangan sampai terlanjur! Jangan sampai membanggakan diri! Jangan peduli terhadap gangguan cobaan hidup! Tapi justru terimalah dengan sabar!.

4. Cobaan hidup yang menuju kematian. Ditimbulkan akibat buah pikir. Bentuk yang sebenarnya ialag tersimpan rapat di dalam jagatmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanya tentang adanya itu. Bukankah sudah berada di tubuh? Sungguh bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan!.

5. Kemudian tidak pernah memberitahukan dari mana asalnya dulu. Yang menyatu dalam gerak perputaran bawana. Bukankah beritanya sebenarnya sudah ada padamu? Cara mendengarnya bagi ruh sejati. Tidaklah menggunakan telinga. Cara melatihnya. Juga tanpa dengan mata. Adapun telinganya, matanya yang diberikan oleh Allah. Ada

padamu itu.

6. Secara lahir sukma itu sudah ada padamu. Secara batinnya ada pada sukma itu sendiri. Memang demikanlah penerapannya. Ibarat seperti batang pohon yang dibakar. Pasti ada asapnya api. Menyatu dengan batang pohonnya. Ibarat air dengan alunnya. Seperti minyak dengan susu. Tubuhnya dikuasai oleh gerak dan kata hati. Demikian pun dengan Hyang Sukma.

7. Sekiranya kita mengetahui wajah hamba Tuhan. Dan sukma yang kita kehendaki ada. Diberitahu akan tempatnya. Seperti wayang ragamu itu. Karena dalanglah segala geraknya wayang. Sedangkan panggungnya jagad. Bentuk wayang adalah sebagai bentuk badan/raga. Bergerak bila digerakkan. Segala-galanya tanpa kelihatan jelas antara perbuatan dengan ucapan.

8. Yang berhak menentukan semuanya. Tidak tampak wajahnya kehendak. Justru tanpa wujud dalam bentuknya. Karena sudah ada pada dirimu. Upama yang jelas ketika berhias. Yang berkaca itu Hyang Sukma. Adapun bayangan dalam kaca itu yang ada dalam kaca. Itulah dia yang bernama manusia sesungguhnya. Bentuknya di dalam kaca.

9. Lebih besar lagi pengetahuan tentang kematian ini. Dibandingkan dengan kesirnaan jagad raya. Karena lebih lembut seperti lembutnya air. Bukankah lebih lembut kematian manusia? Artinya lembut ialah karena kecilnya. Sekacil kuman. Bukankah masih karena kecil lembut kesirnaan manusia? Artinya lebih dari “Karena menentukan segalanya”. Sekali lagi artinya lembut ialah sangat kecilnya.

10. Dapat mengenai yang kasar dan yang kecil. Mencakup semua yang merangkak. Melata tiada bedanya. Benar-benar serba lebih. Lebih pula dalam hal menerima perintah tidak boleh mengandalkan. Pada ajaran pada pengetahuan. Karenanya bersungguh-sungguhlah menguasainya. Badan/dirimu doronglah dalam meraihnya. Pahamilah liku-liku ulah tingkah manusia kehidupan!.

11. Ajaran itu ibarat sebagai benih. Yang diajari ibarat lahan. Umpama kacang dan kedelai. Yang disebar di atas batu. Kalau batunya tanpa tanak. Pada saat kehujanan dan kepanasan. Pasti tidak akan tumbuh. Tapi bila kau bijaksana. Melihatmu musnakan pada matamu! Jadikanlah penglihatan sukma dan rasa.

12. Demikan pun wujudmu, suaramu. Serahkan kembali kepada Yang Empunya suara! Justru kau hanya mengakukan saja. Sebagai pemiliknya. Sebenarnya hanya mengatas namai saja. Maka dari itu kau jangan memiliki. Kebiasaan yang menyimpang. Kecuali hanya kepada Hyang Agung. Dengan demikian kau “angraga sukma” yaitu kata hatimu sudah bulat menyatu kawula Gusti. Bicaralah menurut pendapatmu!.

13. Bila pendapatmu benar-benar menyakinkan. Bila masih mearasakan sakit dan masih was-was. Yaitu kejangkitan bimbang sebenarnya. Bila sudah menyatu dalam satu wujud. Apa kata hatimu apa yang kau rasakan. Apa yang kau pikir terwujud ada.yang kau cita-citakan tercapai. Berarti sudah tercakup/kuasai olehmu. Jagad seisinya justru benar-benar untukmu. Sebagai upah atas kesanggupanmu sebagai kholifah di dunia.

14. Bila sudah memahami dan menguasai amalan dan ilmu ini. Hendaknya semakin cermat dan teliti atas berbagai masalah. Masalah itu satu tempat dengan pengaruhnya. Sebagai ibaratnya sekejap pun tak boleh lupa. Lahiriyah kau landasilah. Pengetahuan empat hal. Semuanya tanggapilah secara sama. Kelimanya yang satu itu ialah tersimpan baik. Berguna / dapat dipakai dimana saja!.

15. Artinya mati di dalam hidup. Atau sama dengan hidup di dalam mati.ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma muksa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Melaya, terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan senang hatimu! Anugerah berupa wahyu akan datang kepadamu.

16. Sepertti bulan yang diterangi cahaya temaram. Bukankah temurunnya wahyu menghilangkan kotoran. Bersih bening hilang kotorannya. Berkala lagi kemudian katanya. Nabi Khidir berkata dengan lemah lembut dan tersemyum. Tak ada yang dituju. Semuanya sudah tercakup haknya. Tidak ada yang diharapkan dengan kaprawiran, kesaktian semuanya sudah berlalu. Toh semuanya itu alat peperangan.

17. Habislah sudah wejangan Jeng Nabi Khidir. Syeh Melaya merasa ewuh pakewuh di dalam hati. Mawas diri ke dalam dirinya sendiri. Kehendak hati rasanya sudah mendapat petunjuk cukup. Rasa batinnya menjelajahi jagad raya tanpa sayap. Ke seluruh penjuru jagad raya. Jasadnya sudah terkendali. Menguasai hakekat semua ilmu. Umpama bunga yang masih lama kuncup. Sekarang sudah mekar berkembang.

18. Ditambah bau semerbaknya. Karena sudah mendapatkan sang Pancaretna, kemudian disuruh keluar dari raganya nabi Khidir kembali ke alamnya semula? Lalu Nabi Khidir berkata He, Melaya. Kau sudah diterima Hyang Sukma. Berhasil menyebarkan aroma Kasturi yang sebenarnya. Dan rasa yang memanaskan hatimu pun lenyap.

19. Sudah dijelajah seluruh permukaan bumi. Berarti kau sudah mengetahui jawaban atas pertanyaanmu! Arti godaan hati ialah rasa qana’ah yang semakin dimantapkan. Ibarat memakai pakaian sutera yang indah. Selalu mau mawas diri. Semua tingkah laku yang halus. Diresapkan ke dalam jiwa, dirawat seperti emas. Dihias-hias dengan keselamatan, dan di pajang seperti permata. Agar mengetahui akan kemauannya berbagai tingkah laku manusia.

20. Perhaluslah budi pekertimu / akhlak ini! Warna hati kita yang sedang mekar baik. Sering dinamakan kasturi Jati. Sebagai pertanda bahwa kita tidak mudah goyah. Terhadap gerak-gerik sikap hati yang ingin menggapai sesuatu tanpa ilmu. Ingin mendalami pengetahuan tentang Ruh itu justru keliru. Lagi pula cara penataan kita itu ibaratnya busana justru dipakai sebagai kerudung. Sedangkan yang ikat kepala sebagai

sarungmu.

21. Kemudian terlibat ingatan kita dulu. Ibarat menjalani mati ketika berada di adalam rongga ragaku. Tampak olehnya Sunan Kalijaga cahaya. Yang warnanya merah dan kuning itu. Sebagai hambatan yang menghadang agar gagal usaha / ikhtiar / cita-citanya. Dan yang putih ditengah itulah. Yang sebenarnya harus diikuti. Kelimanya harus tetap diwaspadai. Kuasailah seketika jangan sampai lupa! Bisa dipercaya sifatnya.

22. Berat kesediaanku berbuat sebagai penyekat. Untuk alat pembebas sifat berbangga diri. Yang selalu didambakan siang dan malam. Bukankah aku banyak sekali melekat / mengetahu. Caranya pemuka agama. Yang ternyata salah. Di dalam penafsiran. Dan penyampaian keterangannya? Anggapannya sudah benar tahunya. Akhirnya malah

mematikan pengertian yang benar. Akibatnya terporosok di dalam penerapannya.

23. Ada pemuka agama yang ibaratnya menjadi burung. Ia hanya sekedar mencari tempat bertengger saja. Yaitu pada batang kayu yang baik rimbun, lebat buahnya, kuat batangnya. Untuk kemudian hidup baru. Ada yang orang berpangkat / kedudukan, ada yang ikut orang kaya. Akhirnya dimasyarakatkan. Ada manusia bodoh dan malas yang

bergendang paha lewat keduanya. Melebihi posisi orang banyak / masyarakat. Ibaratnya seperti sekedar memperoleh kemulian sepele / naif. Jadinya tersesat-sesat sesatnya / berat.

24. Ada pula yang justru memiliki jalan terpaksa. Menumppuk kekayaan harta dan istri banyak. Ada pula yang memilih jalan mengusai putranya. Putra yang bakal mengusai. Hak asasi orang seseorang. Semuanya ingin mendapatkan yang serba lebih. Di dalam memiliki jalan mereka. Kalau demikan halnya, menurut pendapatku. Belumlah mereka itu para pemuka agama berserah diri sepenuhnya kepada Allah tapi masih berkeinginan pribadi / berambisi. Agar semua itu menjunjung harkat dan martabatnya.

25. Catatan, tatanan yang tidak pasti. Belum bisa disebut manusia utama. Yang demikan itu menurut anggapannya. Dan perasannya mendapatkan kebahagiaan, kekayaan dan mengerti yang hak benar. Bila kemudian tertimpa kedudukaan, terlanjur biasa. Memilih jalan sembarang tempat. Tanpa menghasilkan jerih payahnya dan tanpa hasil. Dalam arti mengalami kegagalan total.

26. Setidak-tidaknya menimbulkan kecuriagaan. Apa kebiasaan kita hidup di dunia. Ketika mengahadapi datangnya maut. Di situlah biasanya. Tidak kuat menerima ajal. Merasa beratnya meninggalkan kehidupan dunia tak tersangkal lagi. Pokonya masih lekat sekali pada kehidupan duniawi. Begitulah beratnya mencari kemuliaan. Tidak boleh lagi merasa terlekat kepada anak-istri. Pada saat-saat menghadap ajalnya.

27. bila salah menjawab pernyataan bumi. Lebih baik jangan jadi manusia! Kalau matinya binatang mudah penyelesaiannya. Karena matinya tanpa pertanggungjawaban. Bila kau sudah merasa hatimu benar. Akan hidup abadi tanpa hisab. Ibaratnya tubuh bumi itu. Keterdiamannya tidak membantu. Kesepiannya tidak mencair. Tidak mempedulikan pembicaraan orang lain yang ditujukan kepadanya.

28. Ingatlah pada agamawan selalu mencari penyelesaian yang benar. Yaitu bagaimana hilang dan mati bersama raganya ialah yang diidamkannya. Sehingga mempertinggi semedinya. Untuk / agar mengejar keberhasilan. Tapi sayang tanpa petunujuk Allah, kecuali hanya semedi semata. Tidak disertai dukungan ilmu. Akibatnya hasilnya kosong melompong. Karena hanya mengandalkan pikirnya. Ini berarti belum mendapatkan tata cara hidup yang benar hakiki yang seperti ini adalah idaman yang sia-sia.

29. Bertapanya sampai kurus kering. Karena sedemikaan rupa caranya menggapai tentang kematian. Akhirnya meninggalnya tanpa ketentuan yang benar. Karen terlalu serius. Adapun cara yang benar adalah. Tapa itu hanya sebagai ragi / pemanas / pemantap pendapat. Sedangkan ilmu itu sebagai pendukung. Tapa dan ilmu tidak akan berhasil. Bila ilmu tanpa tapa.

30. Rasanya hambar tidak akan memberi hasil. Berhasil atau tidaknya tergantung pada penerapannya. Dicegah hambatannya yang besar. Sabar dan tawakal. Bukankah banyak agamawan palsu. Ajarannya setengah-setengah. Kepada shabatnya. Para sahabatnya merasa pintar sendiri. Yang tersimpan di hati, segera dilontarkan segala uneg-unegnya. Disampaikan kepada gurunya.

31. Penyampaiaanya hanya berdasarkan perkiraan belaka. Dahulunya belum mendapatkan pelajaran. Sangking tobatnya tidak merasa enak kalau menyanggah. Lalu ikut-ikutan mendengarkan. Dengan menanamkan. Rekaniwan yang terbesar. Dianggapnya sudah pasti pendapatnya benar. Pendapatnya / ilmunya adalah wahyunya itu anugrah yang khusus diberikan pribadi. Akhirnya sahabatnya diaku sebagai anak.

32. Ditekan-tekankan tuntutan besar berupa ikatan batin. Oleh guru bila sudah akan mejang / menyampaikan ajaran. Duduk mereka sering berdekatan. Sehingga sahabat dikuasai oleh guru, dan snag guru menjadi sahabatnya batin. Luasnya tanggapan bahwa. Segala merupakan wahyu Allah. Kebaikannya, keduanya antara guru dan sahabat. Saling memahami. Kalau seseorang diantara mereka dianggap sebagai orang

yang berilmu.

33. Harus ditaati segala apapun yang diucapkan itu. Umpama berjalan juga harus disembah biasanya bertempat di pucuk-pucuk gunung. Pengaruh ajarannya sangat mengundang perhatian. Menemui perguruannya. Bila ada yang berguru / menghadap. Nasihatnya macammacam dan banyak sekali. Seperti gong besar yang dipukul. Bukankah yang ajarannya dibeber tapi tidak bermutu / bobot. Akibatnya rugilah

mereka yang berguru.

34. Janganlah seperti itu orang hidup. Anggaplah ragamu sebagai wayang. Digerakkan ditempatnya. Terangnya blencong itu. Ibarat panggung kehidupan. Lampunya bulan purnama. Layarnya ibarat alam jagad raga yang sepi kosong. Yang selalu menunggu-nunggu buah pikir / kreasi manusia. Batang pisang ibarat bumi tempat mukimnya wayang / manusia. Hidupnya ditunjang oleh yang nanggap.

35. Penanggapnya ada di dalam rumah, istana. Tidak diganggu siapa pu boleh berbuat menurut kehendaknya. Hyang premana dalangnya / sutradaranya. Wayang pelakunya. Adakalanya digerakkan ke utara, ke selatan dan barat serta ketimur. Seluruh gerakannya. Digerakkan oleh sutradara. Bila semuanya digerakkan berjalan. Semua ada di tangan dalang.

36. dialognya menyampaikan pesan juga. Bila bercakap, lisannya itu menyampaikan berbagai nasihat. Menurut kehendaknya. Para penanton dibuat terpesona. Diarahkan melekat pada dalang. Adapun yang nanggap itu selamanya tak akan tahu. Karena ia tanpa bentuk dan ia berada di dalam puri / rumah / istana. Ia tanpa warna itulah dia Hyang Sukma.

37. Cara Hyang Premono mendalang / menggerakkan wayang. Mempercakapkan tentang dirimu. Tanpa memperbedakan sesama titah. Di samping itu bukankah dia tidak terlibat sebagai pelaku? Misalnya berada dalam tubuh? Atau yang ibarat minyak di dalam susu. Atau api di dalam kayu? Berhasrat sekali karena belum diberi petunjuk sehingga menggelar do’a di kayu, dakon dan gesekan. Dengan beralatkan sesma batang pohon.

38. Gesekan itu disebabkan oleh angin. Hangusnya kayu, keluarlah kukusnya. Tak lama kemudian apinya. Apai dan asapnya. Keluardari kayu itu. Bermula dari ingat pada saat. Awal mulanya. Semua yang tergelar ini. Berasal dari tiada, manusia diciptakan lebih dari makhluk yang lain. Bukankah itu yang disebut rahsa.

39. Manusia itu tidak paling mulia daripada ciptaan yang lain. Maka dari itu janganlah mudah terpengaruh oleh buah pikirmu yang bulat. Bulat atas segala gerak dan kehendak. Adapun isi jagad itu jangan mengira hanya manusia saja. Tetapi berisi segala macam titah, hanya saja manusia itu. Penguasanya satu. Yang menghidupi seluruh jagad seisinya. Demikianlah tekad yang sempurna itu.

40. Hai Syeh Melaya segeralahkan menyudahi. Kembalilah kamu ke pulau Jawa! Bukankah sebenarnya kau mencari dirimu juga? Syeh Melaya bergegas. Bersembah dan berkata dengan beriba kasih untuk memenuhinya. Yang disebut Kalingga Murda. Hamba setia dan taat. Nabi Khidir lalu musnah lenyap. Syeh Melaya tampak berdo’a di samudera. Tapi tidak tersentuh air.

41. Syeh Melaya sangat berjanji dalam hati. Atas peringatan / ajaran sang guru yang sempurna. Bukankah ia masih sangat ingat? Hasrat hati yang telah memiliki / mengetahui ilmu kawekas. Isinya jagad telah terkuasai dalam hati. Merasa mantap dan disimpan baik dalam ingatan. Sehingga serba mengetahui dan tak akan keliru / salah lagi. Diresapi dalam jiwa dan dijunjung tinggi sampai mati. Ia telah lulus dari sumber aroma Kasturi yang sebenarnya. Sehingga sifat panasnya hati lenyap.

42. Sesudah itu Syeh Melaya pulang. Hatinya sudah tidak goyah lagi karena segala ajaran itu tampak jelas dalam batin. Ia tidak salah lagi lihat dirinya siapa sebenarnya. Penjelmaan jiwanya menyatu dalam satu wujud. Walaupun secara lahiriah dirahasiakan. Norma tatacara / perilaku jiwa satria. Berhasil dikuasai. Bukan ia sudah menggunakan mata batinnya yang tajam / peka? Ibarat hewan dengan bebannya!.

43. Sudah tak akan ada / terjadi, kematian dalam kehidupan. Setelah bagaimana ia menerima ajaran gurunya. Sama sekali tidak diragukan lagi. Seluruh ajaran gurunya. Sudah tamat dan dikuasai dengan tersimpan dalam hati. Serta diimankan dengan cermat. Mematuhi semua ajaran guru. Perbuatan pikiran dan rasa. Bukankah diuji dalam hati yang suci dan bening? Benar-benar terasa sebagai anugrah Tuhan.

44. Sesungguhnya sang guru benar-benar. Yang sudah hilang raganya tidak ada. Selalu terbayang dalam hatinya. Dan sudah duterapkan sebagai kekasihnya. Adapun segala ketercelaan hati sudah lenyap. Rasanya tenanglah. Adapun segala ketercelaan hati sudah lenyap. Rasnya tenanglah dunia dan akhirat. Karena kebersihan dan kesucian jiwa sudah diketemukan. Sukma suci dalam segala tingkah lakunya itu memahami sepaham-pahamnya.

45. Bukankah sudah memahami buah pikir lewat petunjuk? Sehingga tidak takut akan kematian. Yang sering timbul dalam buah pikiran? Ia sudah mengaharapkan bahwa raganya boleh kalau kematian yang mulia. Yang diridhoi oleh Tuhan / Hyang Widi. Namun sebenarnya tak ada anggapan perasan. Yaitu rasa seperti itu. Tiadanya pandang / wawasan seperti itu. Bukankah sudah lenyap selamanya. Tinggal jiwa suci yang

terpuji mulia? Mulia seperti zaman kunanya / awalnya.

46. Tidak meragukan kematian yang sebenarnya. Yang menjelmput maut setiap saat. Tidak merasa akan kematiannya. Toh yang rusak itu nafsunya dan. Badan, jiwa hidup abadi dan aman sejahtera. Senang, mulia dan merdeka. Semuanya itu sudah diterapkan dalam hati. Sehingga berpegang pad dan kuasa-Nya. Semuanya bersih, abadi, suci dan merata sama posisinya. Sudah mengetahui akan makna kematian yang sebenarnya.

47. Ia tidak takut kapan pun maut menjemput. Yang sempurna ialah yang diterima oleh Tuhan. Tak akan tampak wujudnya. Adapun kesempurnaan mati ini. Sekali lagi ialah sudah aman, sejahtera, mulia. Itulah makna kematian yang sempurna. Yaitu tidak meninggalkan hak-Nya Ketujuh alam sudah lenyap. Bukankah lenyapnya alam ini sudah jelas? Kini yang lain ibarat kau sajalaha!

48. Pengusa alam bukankah sudah kita ketahui? Yang bernawa Abirawa artinya yang berkuasa dan berkehendak. Adapun tentang alam yang keenam, artinya ialah yang telah lenyap: 1. timur, 2. barat, 3. utara, 4. selatan, 5. atas. 6. bawah serta kayu dan batu dan diri kita sendiri. Bila kita telah mati. Yang ada awang uwung kosong dan sepi. Yang terdengar hanya deru angin, debur air da kobaran api di alam dahana.

49. matahari, bulan, bukankah yaitu masuk alam juga? Dua puluh tiga alam yang serba nafsu itu. Semuanya baru kadis belaka. Walaupun bukankah sama dahulunya? Syeh Melaya sudah memahami hal itu semua? Kalau itu semuanya adalah alam serba nafsu. Dan alam yang sebenarbenarnya sudah jelas? Penguasa alam semua. Sedang yang menyelaraskan hanyalah alam anbiyak ini. Alam anbiyak itu baunya harum wewangi.
Continue Reading | comments

Terjemah Suluk Linglung Sunan Kalijaga III



PUPUH V

KINANTHI

Episode V : Berisi ajaran Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga tentang ilmu yakin, ainul yaqin, ma’rifatul yaqin dan iman hidayat serta sifat-sifat yang terpuji.

1. Nabi Khidir berkata lembut dan manis yang isinya bercampur perlambang dan sindiran, “Umpamanya ada orang membicarakan sesuatu hal. Lotnya seharusnya baik, nyatanya lotnya justru bumbunya, bercampur dengan rahasia yang terasa sebagai jiwa suci.

2. Nubuat yang penuh rahasia itu sebenarnya sebenarnya rahasia ini yaitu ketika masih berada di sifat jamal ialah johar awal bila bila sudah keluar menjadi johal akhir yang sudah dewasa yang awal itulah rahasia sejati.

3. Sijohar akhir itu ternyata dalam satu wujud satu pati dan satu hidup dengan johar ketika dalam kesatuan satu wujud satu raksa satu hidup menyatu dengan johar awal. Adapun johar akhir ini ialah.

4. Satu wujud dalam keadaan sehidup-semati segala ulah johar akhir selamanya bersikap pasrah. Sedangkan johar batin ini ialah yang dipuji dan disembah hanyalah Allah yang sejati.

5. Tidak ada sama sekali rasa sakit karena sebenarnya kamu ini nuqod ghoib ialah nuqod ghoib ketika di masa awal / kuna ia tidak hidup juga tidak mati dan sebenarnya yang dikatakan nuqod itu tdak lain ghoib jugalah namanya itu.

6. Sudah tiba datang nuqod yang sudah hidup sejak dulunya dicpta menjadi Alip. Alip itu sendiri jisim latip dan keberadaanmu yang sebenarnya itulah yang disebut / dinamakan neqdu.

7. Sekarang johar jati yaitu namamu itu semasa hidup yaitu syahdat jati dalam hidup itu sendiri ialah yang dimanakan Rasulullah rasa sejati.

8. Syahdat jati adalah darah yaitu tempat segala dzat / makhluk merasakan rasa yang sebenarnya tentang hidup dan kehidupan sama dengan satuan Jibril-Muhammad-Allah. Ketiganya dan keempatnya adalah yang disebut Darah hidup. Jelasnya coba perhatikan orang mati.

9. Apa ada darahnya? Darah itu hilang kini, hilangnya bersama / menyatu dengan sukma. sukma/ruh hilang adalah kembali pada Alip tersebut. Sukma yang hilang dan kembali kepada Alip itu disebut ruh idhofi.

10. Pengertian Jisim Latip atau yang disebut Jisim Latip ialah Jisim Angling yang sudah reda terdahulu kala yaitu Alip yang disebut angling padahal Alip itu tanpa mata tidak berkata-kata tidak mendengar.

11. Tanpa perilaku tidak melihat dan itulah Alip yang artinya sebenarnya luqkawi. Alip jatuh / bertempat / berada pada nuqodnya. Ketiadaannya keberadaannya menjadi Alip itu karena dijabarkan / dikembangkan, bukankah ruh idhofi itu bagian Dzatullah?.

12. setelah diajarkan semua pelajaran sampai selesai, tentang ruh idhofi yang menjadi inti pembahasannya; Adapun wujud sesungguhnya Alip itu, asal dan muasalnya itu, berasal dari johar Alip itu, yang dinamakan kalam karsa.

13. Timbullah hasrat kehendak Allah itu menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal / muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri!.

14. Adapun sifat jamal (sifat yang bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya itu, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya.

15. “Kalau tidak ada dirimu, saya Allah tidak akan dikenal / disebut; Hanya dengan sebab adanya kamulah yang menyebutkan akan keberadaan-KU; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu, Adanya Aku, Allah, menjadikan ada dirimu, Wujudmu menunjukkan adanya wujud Dzat-KU”.

16. Dan untuk memperjelas jati dirimu, tidaklah kau sadari, bahwa hampir ada persamaan Asma-Ku yang baik (Asmaul Husna) dengan sebutan manusia yang baik (misal : Allah Yang Maha Pengasih, dengan: Siti Fatimah mengasihi anaknya). Itu semua kau maksudkan untuk memudahkan penggambaran perwujudan tentang Diri-Ku. Padahal kau tahu, Aku berbeda dengan dirimu, yang tidak mungkin dapat disamakan satu sama lain. Dan kamu pasthi mengalami kesulitan dan tidak mungkin dapat melukiskan atau menyebutkan Asma-Ku dengan setepat-tepatnya.

17. namamu yang baik dapat menyerupai nama-Ku Yang Baik (Asmaul Husna); Apakah kamu sudah dapat meraih sebutan nama yang baik itu? Baik di dunia maupun di akhirat? Kamu ini merupakan penerus / pewaris Muhammad Rasulullah, sekaligus Nabi Allah. Ya Illahi, ya Allah Tuhanku...

(Bagi pembaca maupun pendengar dianjurkan berdoa pada Allah. Insya Allah berhasil kabul apa yang diinginkan, Amin, amin, amin, ya Rabbal alamin).

18. nabi Khidir mengakhiri pembacaan Firman Allah SWT, kemudian melanjutkan memberi penjelasan pada Sunan Kalijaga; “Tanda-tanda adanya Allah itu, ada pada dirmu sendiri harap direnungkan dan diingat betul. Asal muasal Alip itu, akan menjadikan dirimu bersusah payah selagi hidup; Budi jati sebutannya, yang tidak merasa menimbulkan budi / usaha untuk mengatasi lika-liku kehidupan.

19. Bagi orang yang senang membicarakan dan memuji dirinya sendiri, akan dapat melemahkan semangat usahanya, antara tidak dan iya penuh kebimbangan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan johar budi (mutiara budi) ialah, bila sudah mengetahui maksud dari budi iman yaitu menjalankan segala tingkah laku dengan didasari keimanan pada Allah. Alip tercipta karena sudah menjadi suratan ketentuan yang digariskan.

20. Sungguhnya alip itu, tetap kelihatan ada adanya tidak dapat berubah. Itulah yang disebut Alip. Adapun bila terjadi perubahan, itulah yang disebut Alip Adi, yang menyesuaikan diri dengan keadaanmu.

21. Mutiara awal kehidupan (johar awal) dimaksudkan dengan kehidupan tempo dulu yang betul-betul terjadi sebagaimana tinja junub dan jinabat. Johar awal ibarat bebauan / aroma akan tiba saatnya, tidak boleh tidak akan kita laksanakan dan rasakan di dalam kehidupan kita di dunia.

22. jelasnya, kehidupan yang telah digariskan sebelumnya oleh Johar itu, telah memuat garis hidup dan mati kita. Segalanya telah ditentukan di dalam Johar awal. Dari keterangan Johar awal tadi, tentu akan menimbulkan pertanyaan, di antaranya; “Mengapa kamu wajib shalat, di dalam dunia ini?”. Penjelasannya demikian; Asal mula diwajibkan menjalankan shalat itu ialah:

23. Disesuaikan dengan ketentuan di zaman azali, kegaiban yang kau rasakan saat itu; Bukankah kamu juga berdiri tegak, berseidekap menciptakan keheningan hati, bersidekap menyatukan konsentrasi, menyatukan segala gerakmu.

24. ucapanmu juga kau satukan, akhirnya kau rukuk tunduk kepada yang menciptakanmu, merasa sedih karena malu sehingga menciptakan timbul, keluar air matamu yang jernih, sehingga tenanglah segala kehidupan ruhmu, rahasia iman dapat kau resapi.

25. Setelah merasakan semua itu, mengapa harus sujud ke bumi? Pangkal mula dikerjakan sujud bermula adanya, cahaya yang memberi pertanda pentingnya sujud, yaitu merasa berhadapan dengan wujud Allah biarpun tidak melihat wujud yang sesungguhnya, dan yakin bahwa Allah melihat segala wujuh gerak kita (pelajaran tentang ihsan).

26. Dengan adanya agama Islam dimaksudkan, agar makhluk yang ada di bumi dan di langit, dan termasuk dirimu itu, beribadah sujud kepada Allah dengan hati yang ikhlas sampai kepala diletekkan dimuka bumi, sehingga bumi dengan segala keindahannya tidak tampak di hadapanmu, hatimu hanya ingat Allah semata-mata. Ya demikianlah

seharusnya perasaamu, senantiasa merasa sujud di bumi ini.

27. Mengapa pula menjalankan duduk diam seakan-akan menunggu sesuatu? Melambungkan pengosongan diri dengan harapan ketemu Allah! Padahal sebenarnya itu tidak dapat mempertemukan dengan Allah. Allah yang kau sembah itu betul-betul ada. Dan hanya Allah-lah tempat kamu mengabdikan diri dengan sesungguhnya. Dan janganlah sekali-kali dirimu menggap sebagai Allah.

28. Dan dirimu jangan pula menganggap sebagai Nabi Muhammad. Untuk menemukan rahasia (rahsa) yang sebenarnya harus jeli. Sebab antara rahasia yang satu berbeda dengan rahasia yang lain. Dari Allahlah Nabi Muhammad mengetahui segala rahasia yang tersembunyi; dan Nabi Muhammad sebagai makhluk yang dimuliakan Allah. Dan beliu sering menjalankan puasa.

29. Dan akan dimuliakan makhluk-Nya, kalau mau mengeluarkan shodaqoh; Dan dimuliakan makhluk-Nya, bagi yang dapat naik haji; Dan makhluk-Nya akan dimuliakan, kalau melakukan ibadah shalat.

30. matahari berbeda dengan bulan, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkaannya. Sudahkan hidayat iman (petunjuk iman) terasa dalam dirimu? Taukhid adalah pengetahuan yang penting untuk menyembah pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya ru’yat (ya dengan melihat pakai mata telanjang) sebagai saksi adanya yang terlihat dengan nyata.

31. Mari kita dalami sifat Allah, Sifat Allah yang sesungguhnya, Yang asli, aslinya dari Allah. Sesungguhnya Allah itu, Allah yang hidup. Segala af’ale (perbuatannya) adalah berasal dari Allah. Itulah yang dimaksud denga ru’yati.

32. Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khoiroti (kebajikan hidup), makrifat itu hanya ada di dunia. Johar awal khoiroti (mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan, untuk itu secara tidak langsung kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang sempurna).

33. Insan kamil (manusia yang sempurna) berasal dari dzatullah (Dzatnya Allah), sesungguhnya ketentuan ghaib yang telah tersurat, adalah kehendak Dzat yang sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat allah. Insan kamil namanya, kalau mengetahui keberadaan Allah itu.

34. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuqod ghaib insan kamil; itu bukan berarti tidak tersurat, yaitulah yang dunamakan puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan kehidupan nyawamu semakin baik.

35. dan serta badannya, akan disebut badan Muhammad, yang mendapat kesempurnaan hidup. Syeh Melaya berkata lemah lembut, “Mengapa sampai ada orang mati yang dimasukkan neraka? Mohon penjelasan yang sebenarnya”.

36. nabi Khidir berkata berkata dengan senyuman manis, “Wahai Melaya! Maksudnya begini. Neraka Jasmani juga ada di dalam dirimu sendiri, dan yang diperuntukkan bagi siapa saja yang belum mengenal dan meniru laku nabiyullah. Hanya ruh yang tak mati.

37. Hidupnya ruh jasmani itu, yang sama dengan sifat hewan, maka akan

dimasukkan ke dalam neraka. Juga mengikuti bujuk rayu iblis, atau mengikuti nafsu yang merajalela seenaknya tanpa terkendali, tidak mengikuti petunjuk Tuhan Allah SWT.

38. Mengandalkan ilmu saja, tanpa mempedulikan sesama manusia keturunan Nabi Adam, itu disebut iman tahdlot. Ketahuilah bahwa umat manusia itu termasuk badan jasmanimu. Pengetahuan tanpa guru itu, ibarat orang menyembah tanpa mengetahui yang disembah.

39. Dapat menjadi kafir tanpa diketahui, karena yang disembah kayu dan batu, tidak mengerti apa hukumnya, itulah kafir yang bakal masuk neraka jahanam. Adapun yang dimaksudkan dengan ruh idhofi adalah, sesuatu yang kelak tetap kekal sampai akhir nanti kiamat dan tetap berbentuk ruh yang berasal dari ruh Allah.

40. Yang dimaksud dengan cahaya adalah yang memancarkan terang serta tidak berwarna, yang seantiasa menerangi hati penuh kewaspadaan yang selalu mawas diri / introspeksi mencari kekurangan diri sendiri serta mempersiapkan akhir kematian nanti, merasa sebagai anak Adam yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan; Ruh Idhofi sudah ada sebelum kau tercipta.

41. Sirik itu dapat terjadi, tergantung saat menerima sesuatu yang ada, itulah yang disebut johar ning. Keenamnya johar awal. Johar awal adalah mutiara ibaratnya. Mutiara yang indah penghias raga agar nampak menarik. Mutiara akan tampak indah menawan.

42. Bermula dari ibarat yang ketujuh, di kala mendengarkan sabda Allah Yang Mutlaq. Ruh serba pasrah kepada Dzatullah. Itulah yang dimaksudkan Ruh Idhofi.

43. Johar awal itu pula, yang menimbulkan Shalat daim. Sahalat daim tidak perlu mengunakan air wudhu; untuk membersihkan khadas tidak disyaratkan. Itulah shalat bathin yang sebenarnya, diperbolehkan makan tidur syahwat maupun berak / buang kotoran.

44. Demikaian tadi cara Shalat Daim (shalat selamanya selagi masih hidup dimana saja dan kapan saja serta situasi bagaimanapun juga) perbuatan itu akan termasuk hal yang terpuji, yang sekaligus merupakan perwujudan syukur kepada Allah. Johar tadi bersatu padu menghilangkan sesuatu yang menutupi / mempersulit mengetahui keberadaan Allah Yang Terpilih. Adanya itu menunjukkan adanya Allah, yang mustahil kalau tak berwujud sebelumnya.

45. Kehidupan itu seperti layar dengan wayangnya, sedang wayang itu tidak tahu warna dirinya; Akibat junub sudah bersatu erat, tetap bersih badan jisimmu. Adapun Muhammad, badan Allah; Nama Muhammad tidak pernah pisah dengan nama Allah.

46. Bukankah hidyat itu perlu diyakini? Sebagai pengganti Allah; dapat pula disebut utusan Allah, Nabi Muhammad juga termasuk badan mukmin atau orang yang beriman. Ruh Mukmin identik pula dengan Ruh Idhofi dalam keyakinanmu.

47. Disebut iman maksum, kalau sudah mendapat ketetapan sebagai panutan jati (orang yang sudah layak dijadikan suri tauladan segala tingkah lakunya). Bukankah demikian itu pengetahuanmu? Kalau tidak hidup begitu, berarti itu sama dengan hewan yang tidak tahu adanya sesuatu di masa yang telah lewat.

48. Kelak nanti tidak boleh tidak, karena tidak mengetahui ke-Islaman maka matinya tersesat, kufur serta kafir badannya. Namun bagi yang telah mendapatkan pelajaran ini, segala permasalahan dipahami lebih seksama baru dikerjakan.

49. Allah itu tidak berjumlah tiga. Yang menjadi suri tauladan adalah nabi Muhammad. Bukankah sebenarnya orang kufur itu, mengingkari empat masalah yang prinsip. Di antaranya bingung karena tiada pedoman manusia yang dapat diteladani. Kekafiran mendekatkan pada kufur kafir.

50. Fakir dekat dengan kafir, sebabnya karena kafir itu, buta tuli tidak mengerti tentang surga dan neraka. Fakir tidak akan mendapatkan pada Tuhan. Tidak mungkin terwujud pendekatan itu.

51. Tidak menyembah dan memuji, karena kefakirannya. Sperti itulah kalau fakir terhadap Dzatullah . dan sesungguhnya Tuhan Allah, mematikan kefakiran manusia. Kepastiannya ada di tangan Allah sematamata.

52. Adapun wujud Dzatullah itu, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya kecuali allah sendiri. Ruh Idhofi menimbulkan iman. Ruh Idhofi berasal dari Allah Yang Esa. Itulah yang disebut iman tauhid. Meyakini adanya Allah juga adanya Muhammad sebagai Rasulullah.

53. Tauhid hidayat yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan Yang Terpilih. Menyatu dengan Tuhan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus merasa bahwa Tuhan Allah itu ada dalam dirmu.

54. Ruh Idhofi ada di dalam dirimu. Makrifat itulah sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal di dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya, Ruku berarti dekat dengan Tuhan Pilihan.

55. penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak akan terjadi padamu. Jangan iku takut menghadapi sakaratilmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh Idhofi tidak akan mati; Hidup mati, mati hidup.

56. Akuilah sedalam-dalamnya bahwa keberadaanmu itu, terjadi karena Allah itu hidup dan menghidupi dirimu, dan menghidupi segala yang hidup. Sastra lip (huruf alip) harus dimintakan penjelasannya pada guru. Jabar jer-nya-pun harus berani susah payah mendalaminya. Terlebih lagi pengetahuan tentang kafir syirik!.

57. Sesungguhnya semua itu, tidak dapat dijelaskan dengan tepat maksud sesungguhnya. Orang yang menjalankan shalat itu berarti sudah mendapatklan kanugrahan sifat Tuhan Allah. Sebagai saran pengabdian hamba terhadap Tuhan Allah. Yang menjalankan shalat sesungguhnya raga. Raga yang shalat itu terdorong oleh adanya iman yang hidup pada diri orang yang menjalankannya.

58. Seandainya nyawa tidak hidup, maka lam tamsyur (maka tidak akan menolong) semua perbuatan yang dilajalankan, secara yang tersurat, shalat itu adalah perbuatan dan kehendak orang menjalankan, namun sebenarnya Allah-lah yang berkehendak atas hambanya. Itulah hakikat dari Tuhan penciptanya. Ruh Idhofi berada di tangan orang mukmin.

59. Semua ruh berada ditangan-Nya, yaitu terdapat pada ruh Idhofi, Ruh Idhofi adalah sifat jamal (sifat yang bagus / indah) keindahan yang berasal dari Dzatullah. Ruh Idhofi nama dari sebuah tingkatan (maqom), yang tersimpan pada diri utusan Allah (Rasulullah).

60. Syarat jisim lathif (jasad halus) itu, harus tetap hidup dan tidak boleh mati. Cahayanya berasal dari ruh itu, yang terus-menerus meliputi jasad. Yang mengisyaratkan adanya sifat jala (sifat yang perkasa) dan sekaligus mengisyaratkan adanya sifat jamal (sfat keindahan).

61. Johar awal mayit (Mutiara awal kematian) itu, memberi isyarat hilangnya diri ini. Jelasnya, semua yang tercipta akan mati. Setelah semuanya menemui kematian di dunia, maka akan berganti hidup diakhirat. Kurang lebih tiga hari perubahan hidup itu pasti terjadi.

62. Asal mula manusia terlahir dari adanya ayah, ibu serta Tuhan Yang Maha Pencipta. Satu kelahiran berasal dari tiga asal lahir. Ya itulah isyarat dari tiga hari. Setelah dititipkan selama tujuh hari, maka dikembalikan kepada yang menitipkan (yang memberi amanat). Titipan itu harus seperti sedia kala.

63. Bukankah tauhid itu sebagai sarana untuk menjadi makrifat? Titipan yang ketiga puluh hari, itu juga termasuk titipan, yang ada kemiripan dengan tujuh hari. Kalau menangis mengeluarkan air mata karena menyesali sewaktu masih hidup.

64. Seperti teringat semasa kehidupan itu berasal daru nur. Yang mana cahayanya mewujudkan dirimu. Hal itulah yang menimbulkan kesedihan dan penyesalan berkepanjangan. Tak terkecuali siapun akan merasakan itu semua, sebagaimana kamu mati, saya merasa kehilangan. Mati hilang bertepatan hari kematian yang keempat puluh hari.

65. Bagaimanakah yang lebih tepat untuk melukiskan persamaan sesama makhluk hidup secara keseluruhannya? Allah dan Muhammad masingmasing berjumlah satu. Seratus pun dapat dilukiskan seperti satu bentuk. Seperti diibaratkan dengan adanya cahaya, yang bersumber dari cahaya Muhammad yang sesungguhnya.

66. Sama halnya pada saat kamu memohon sesuatu. Ruh jasad hilang di dalamnya di hadirat Tuhan Yang Maha Pemberi. Tepat pada hari yang keseribu, tidak ada yang tertinggal. Kembali pada Allah sudah dalam keadaan yang sempurna. Sempurna seperti semula pertama diciptakan.

67. Syeh Melaya terang hatinya, mendengar pelajaran yang baru diterimanya, dari guru Syeh Mahyuningrat Nabi Khidir. Sudah senanglah hatinya, tapi belum mau keluar dari tubuh Nabi Khidir, Syeh Melaya menghaturkan sembah, sambil berkata manis seperti gula madu.
Continue Reading | comments

Terjemah Suluk Linglung Sunan Kalijaga II



SANG NABI KHIDIR (PUPUH IV)

DHANDHANGGULA

Episode IV : Dialog antara Syeh Melaya dengan Nabi Khidir yang berisikan wejangan tentang hidayatullah dan kematian dengan berbagai aspeknya.

1. “Jika kamu berkehendak naik haji ke Mekah, kamu harus tahu tujuan yang sebenarnya menuju Mekah itu. Ketahuilah, Mekah itu hanyalah tapak tilas saja! Yaitu bekas tempat tinggal Nabi Ibrahim zaman dulu. Beliulah yang membuat bangunan Ka’bah Masjidil Haram, serta yang menghiasai Ka’bah itu dengan benda yang berupa batu hitam (Hajar Aswad) yang bergantung di dinding Ka’bah tanpa digantungkan. Apakah Ka’bah itu hendak kamu sembah? Kalau itu yang menjadi niatmu, berarti kamu sama halnya menyembah berhala / bangunan yang dibuat dari batu”.

2. “Perbuatanmu itu tidak jauh berbeda dengan yang diperbuat oleh orang kafir, karena hanya sekedar menduga-duga saja wujud Allah yang yang disembah, dengan senantiasa menghadap kepada berhalanya”. Oleh karena itu, biarpun kamu sudah naik haji, bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, tentu kamu akan rugi besar. Maka dari itu, ketahuilah bahwa Ka’bah yang sedang kautuju itu, bukannya yang terbuat dari tanah atau kayu apalagi batu, tetapi Ka’bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya Ka’batullah (Ka’bahAllah). Demikian itu sesungguhnya iman hidayat yang harus kamu yakinkan dalam hati.

3. Nabi Khidir memerintah, “Syeh Melaya segeralah kemari secepatnya! Masuklah ke dalam tubuhku!”. Syeh Melaya terhenyak hatinya, tak dapat dicegah lagi keluarlah tawanya, bahkan sampai mengeluarkan airmata seraya berkata dengan halus, “Melalui jalan manakah aku haru masuk ke dalam tubuhmu, padahal saya tinggi besar melebihi tubuhmu, kira-kira cukupkah? Melalui jalan manakah usaha saya untuk masuk? Padahal

nampak olehku buntu semua!”.

4. Nabi Khidir berkata dengan lemah-lembut, “Besar mana kamu dengan bumi, semua beserta isinya, hutan rimba dan samudera serta gunung, tidak bakal penuh bila dimasukkan ke dalam tubuhku, jangan khawatir bila tidak cukup masuklah di dalam tubuhku ini !”. Syeh Melaya setelah mendengarnya, semakin takut sekali bersedia melaksanakannya; Menolehlah Nabi Khidir.

5. “Ini jalan di telinganku ini, “Syeh Melaya masuk dengan segera, sudah sampai ke dalam tubuh Nabi Khidir. Melihat samudera luas, tiada bertepi sejauh mata memandang, semakin diamati semakin jauh tampaknya; Nabi Khidir bertanya keras-keras, “hai apa yang kamu lihat?” Segera menjawab Syeh Melaya, “Ya jauh, tak ada yang kelihatan”.

6. Syeh Melaya melanjutkan jawabannya, “Angkasa raya yang kuamati, kosong melompong jauh tidak kelihatan apa-apa, kemana kakiku melangkah, tidak tahu arah utara selatan, barat timur pun tidak kami kenal lagi, bahwa dan atas serta muka, juga belakan, saya tidak mampu membedakan; Bahkan semakin membingungkanku”; Nabi Khidir berkata lemah-lembut, “Usahakan jangan sampai bingung hatimu”.

7. Tiba-tiba terang kelihatan di hadapannya Nabi Khidir, Syeh Melaya melihat lagi arah utara selatan, barat dan timur sudah kelihatan jelas, atas serta bawah, juga sudah terlihat, dan mampu menjaring matahari, tenang rasanya sebab dpat melihat Nabi Khidir, rasanya berada di alam yang lain dari yang lain.

8. Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut, “jangan berjalan hanya sekedar berjalan, lihatlah dengan sungguh-sungguh apa yang terlihat olehmu”. Syeh Melaya menjawab, “ada warna empat macam, yang nampak padaku, semua itu, sudah tidak kelihatan lagi, hanya empat macam yang kuingat, yaitu hitam merah kuning dan putih”.

9. Berkata Nabi Khidir, “Yang pertama kau lihat cahaya, mencorong tapi tidak tahu namanya, ketahuilah itu adalah pancamaya, yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, yang mengatur dirimu, Pancamaya yang indah itu; disebut muka sifat (mukasyafah), bilaman kamu mampu membimbing dirimu ke dalam sifat yang terpuji, yaitu sifat yang asli.

10. Maka dari itu jangan asal bertindak, selidikilah semua bentuk jangan sampai tertipu nafsu, usahakan semaksimal agar hatimu menduduki sifat asli, perhatikan terus hatimu itu, supaya tetap dalam jati diri!”. Tentramlah hati Syeh Melaya, setelah mengerti itu semua, dan baru mantap rasa hatinya serta gembira; adapun yang kuning, merah, hitam serta putih itu adalah penghalang hatinya.

11. Sebab isi dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi ke dalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku, kalau mampu menjahui itu, pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menhalangi meningkatkan citra diri, hati yang tiga macam, hitam, merah, kuning semua itu, menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya, akan menyatunya dengan Tuhan Yang Membuta Nyawa lagi mulia.

12. Jika tidak tercampur oleh tiga hal itu, tentu terjadi hilangnya jiwa, abadi senantiasa berdekatan rapat, nemun perlu diperhatikan dan diingat, dengan saksama, bahwa penghalang yang ada di hati, mempunyai kelebihan yang perlu kamu ketahui, dan sumber inti kekuatannya; yakni hitam lebih perkasa, pekerjaannya marah mudah sakit hati, angkara murka secara membabi buta.

13. Itulah hati yang mengahalangi, menutup kepada kebijakan, yang demikian itulah pekerjaan si hitam; Sedang yang berwarna merah, ikut menunjukkan nafsu yang tidak baik, segala keinginan nafsu keluar, dari si merah, mudah emosi dalam mencapai tujuan, hingga menutupi kepada hati yang sudah jernih tenang, menuju akhir hidup yang baik (khusnul khotimah).

14. Adapun yang berwarna kuning, kemampuannya menanggulangi segala hal, pikiran yang baik akan menjadikan pekerjaan semakin baik, hati kuninglah yang menghalangi timbulnya pikiran yang baik, hanya membuat kerusakan, menelantarkan ke jurang kehancuran; Sedangkan yang putih itulah yang sebenarnya, membuat hati tenang serta suci tanpa ini itu, pahlawan dalam kedamaian.

15. Hanya itulah yang dapat dirasakan manusia, akan kesaksiannya sesungguhnya yang terwujud adanya, hanya menerima kanugrahan semata-mata, hanya itulah yang dapat dilaksanakan. Kalau tetap berusaha agar abadi berkumpulnya diri dekat Tuhan, maka senantiasa menghadapi tiga musuh, yang sangat kejam besar dan tinggi hati (sobong), ketiga musuhmu itu saling kerjasama; Padahal si putih tanpa teman, hanya sendirian saja, makanya sering dapat dikalahkan.

16. Kalau sekiranya dapat mengatasi, akan segala kesukaran yang timbul dari tiga hal itu, maka jadilah persatuan erat terwujud, tanpa berpedoman itu semua tidak akan terjadi persatuan erat antara manusia dan penciptanya. Syeh Melaya sudah memahaminya dengan semangat mulia berusaha, diserta tekad membaja, demi mendapatkan pedoman akhir kehidupan, demi kesempurnaan dekatnya dengan Allah SWT.

17. “Setelah hilang empat macam warna ada hal lain lagi, nyala satu delapan warnanya”, Syeh Melaya pelan berkata, “Apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah yang dimaksud sebenarnya? Nyalanya semakin jelas nyata, ada yang seperti ratna bersinar (mutiara berkilau), ada yang nampak berubah-rubah warna menyambar-nyambar, ada yang seperti permata yang berkilat-tajam sinarnya”.

18. Sang luhur budi Nabi Khidir berpesan, “Hiya itulah sesungguhnya tunggal. Pada dirimu sendiri sudah tercakup makna di dalamnya, rahasianya terdapat pada dirimu juga, serta seluruh isi bumi, tergambar pada tubuhmu, dan juga seluruh alam semesta; Dunia kecil tidak jauh berbeda; Ringkasnya utara barat selatan itu, timur dan atas serat bawah”.

19. “Juga warna hitam merah kuning putih, itulah isi kehidupan dunia, dunia kecil dan alam semesta, dapat dikatakan sama isinya, kalau ditimbang dengan yang ada dalam dirimu ini, kalau hilang warna yang ada, dunia kelihatan kosong, kesulitannya tidak ada, dikumpulkan kepada wujud rupa Yang Satu, tidak lelaki tidak pula perempuan”.

20. “Sama pula bentuk dengan bentuk yang ada ini, yang bila dilihat berubah-ubah putih, camkanlah dengan cermat semua ini”, Syeh melaya mengamati, yang seperti cahaya berganti-ganti kuning, cahayanya terang-benderang memancar, melingkar mirip pelangi, apakah itu yang dimaksudkan, wujud dari Dzat yang dicari dan didambakan? Yang mmerupakan hakikat wujud sejati?”.

21. Nabi Khidir menjawab dengan lemah-lembut, “Itu bukan yang kau dambakan, yang dapat menguasai segala keadaan; Yang kamu dambakan tidak dapat kamu lihat, tiada berbentuk apalagi berwarna, tidak berwujud garis, tidak dapat ditangkap mata, juga tidak bertempat tinggal, hanya dapat dirasakan oleh orang yang awas mata hatinya, hanya berupa penggambaran-penggmabaran (simbol) memenuhi jagad-raya, dipegang tidak dapat”.

22. Bila kamu lihat, yang nampak seperti seperti berubah-ubah putih, yang terang-benderang sinarnya, memancarkan sinar yang menyalanyala, Sang Permana itulah sebutannya, hidupnya ada pada dirimu; Permana itu, menyatu pada dirimu sendiri, tetapi tidak ikut merasakan suka dan duka, tempat tinggalnya pada ragamu.

23. Tidak ikut suka dan duka, juga tidak ikut sakit dan menderita, dan jika Sang Permana meninggalkan tempatnya, raga menjadi tidak berdaya, dan pasti lemahlah seluruh badanmu, sebab itulah letak kekuatannya; Ikut merasakan, kehidupan bersama nyawa, yaitu yang berhak merasakan kehidupan, yang mengerti rahasia di dunia.

24. Dan itulah yang sedang mengenai pada dirimu, seperti diibaratkan bulu pada hewan, yang tumbuh di sekitar raga, hidupnya karena adanya Permana, dihidupi oleh nyawa yang mempunyai kelebihan, menguasai seluruh badan, Permana itu bila mati ikut menanggung, namun bila telah hilang nyawa, kemudian yang hidup hanyalah sukma / nyawa yang ada.

25. Kehilangan itulah yang didapatkan , kehidupan nyawalah yang sesungguhnya, yang sudah berlalu diibaratkan, seperti rasanya pohon yang tidak berbuah, Sang Permana yang mengetahui dengan sabar, sesungguhnya satu asal, perhatikan secara seksama penjelasan tadi. Menjawablah Syeh Melaya, “Kalau begitu manakah warna bentuk yang

sebenarnya?”. Nabi Khidir berkata.

26. “hal itu tidak dapat kau pahami di dalam keadaan nyata semata-mata, tidak semudah itu untuk mendapatkannya”, Syeh Melaya menyela pembicaraan, “Saya mohon pelajaran lagi, sampai paham betul, sampai tuntas. Saya menyerahkan hidup dan mati, demi mengharapkan tujuan yang pasti, jangan sampai tanpa hasil”.

Continue Reading | comments

Detakkan Qalbu Anda Dengan Dzikir

Labels

"Jalani Hidup dengan Kesyukuran total dan kepasrahan total terhadap pengaturan-NYA"
"jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt. Membenarkanmu"(Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.)

Blog Archive