Home » » Terjemah Suluk Linglung Sunan Kalijaga II

Terjemah Suluk Linglung Sunan Kalijaga II



SANG NABI KHIDIR (PUPUH IV)

DHANDHANGGULA

Episode IV : Dialog antara Syeh Melaya dengan Nabi Khidir yang berisikan wejangan tentang hidayatullah dan kematian dengan berbagai aspeknya.

1. “Jika kamu berkehendak naik haji ke Mekah, kamu harus tahu tujuan yang sebenarnya menuju Mekah itu. Ketahuilah, Mekah itu hanyalah tapak tilas saja! Yaitu bekas tempat tinggal Nabi Ibrahim zaman dulu. Beliulah yang membuat bangunan Ka’bah Masjidil Haram, serta yang menghiasai Ka’bah itu dengan benda yang berupa batu hitam (Hajar Aswad) yang bergantung di dinding Ka’bah tanpa digantungkan. Apakah Ka’bah itu hendak kamu sembah? Kalau itu yang menjadi niatmu, berarti kamu sama halnya menyembah berhala / bangunan yang dibuat dari batu”.

2. “Perbuatanmu itu tidak jauh berbeda dengan yang diperbuat oleh orang kafir, karena hanya sekedar menduga-duga saja wujud Allah yang yang disembah, dengan senantiasa menghadap kepada berhalanya”. Oleh karena itu, biarpun kamu sudah naik haji, bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, tentu kamu akan rugi besar. Maka dari itu, ketahuilah bahwa Ka’bah yang sedang kautuju itu, bukannya yang terbuat dari tanah atau kayu apalagi batu, tetapi Ka’bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya Ka’batullah (Ka’bahAllah). Demikian itu sesungguhnya iman hidayat yang harus kamu yakinkan dalam hati.

3. Nabi Khidir memerintah, “Syeh Melaya segeralah kemari secepatnya! Masuklah ke dalam tubuhku!”. Syeh Melaya terhenyak hatinya, tak dapat dicegah lagi keluarlah tawanya, bahkan sampai mengeluarkan airmata seraya berkata dengan halus, “Melalui jalan manakah aku haru masuk ke dalam tubuhmu, padahal saya tinggi besar melebihi tubuhmu, kira-kira cukupkah? Melalui jalan manakah usaha saya untuk masuk? Padahal

nampak olehku buntu semua!”.

4. Nabi Khidir berkata dengan lemah-lembut, “Besar mana kamu dengan bumi, semua beserta isinya, hutan rimba dan samudera serta gunung, tidak bakal penuh bila dimasukkan ke dalam tubuhku, jangan khawatir bila tidak cukup masuklah di dalam tubuhku ini !”. Syeh Melaya setelah mendengarnya, semakin takut sekali bersedia melaksanakannya; Menolehlah Nabi Khidir.

5. “Ini jalan di telinganku ini, “Syeh Melaya masuk dengan segera, sudah sampai ke dalam tubuh Nabi Khidir. Melihat samudera luas, tiada bertepi sejauh mata memandang, semakin diamati semakin jauh tampaknya; Nabi Khidir bertanya keras-keras, “hai apa yang kamu lihat?” Segera menjawab Syeh Melaya, “Ya jauh, tak ada yang kelihatan”.

6. Syeh Melaya melanjutkan jawabannya, “Angkasa raya yang kuamati, kosong melompong jauh tidak kelihatan apa-apa, kemana kakiku melangkah, tidak tahu arah utara selatan, barat timur pun tidak kami kenal lagi, bahwa dan atas serta muka, juga belakan, saya tidak mampu membedakan; Bahkan semakin membingungkanku”; Nabi Khidir berkata lemah-lembut, “Usahakan jangan sampai bingung hatimu”.

7. Tiba-tiba terang kelihatan di hadapannya Nabi Khidir, Syeh Melaya melihat lagi arah utara selatan, barat dan timur sudah kelihatan jelas, atas serta bawah, juga sudah terlihat, dan mampu menjaring matahari, tenang rasanya sebab dpat melihat Nabi Khidir, rasanya berada di alam yang lain dari yang lain.

8. Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut, “jangan berjalan hanya sekedar berjalan, lihatlah dengan sungguh-sungguh apa yang terlihat olehmu”. Syeh Melaya menjawab, “ada warna empat macam, yang nampak padaku, semua itu, sudah tidak kelihatan lagi, hanya empat macam yang kuingat, yaitu hitam merah kuning dan putih”.

9. Berkata Nabi Khidir, “Yang pertama kau lihat cahaya, mencorong tapi tidak tahu namanya, ketahuilah itu adalah pancamaya, yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, yang mengatur dirimu, Pancamaya yang indah itu; disebut muka sifat (mukasyafah), bilaman kamu mampu membimbing dirimu ke dalam sifat yang terpuji, yaitu sifat yang asli.

10. Maka dari itu jangan asal bertindak, selidikilah semua bentuk jangan sampai tertipu nafsu, usahakan semaksimal agar hatimu menduduki sifat asli, perhatikan terus hatimu itu, supaya tetap dalam jati diri!”. Tentramlah hati Syeh Melaya, setelah mengerti itu semua, dan baru mantap rasa hatinya serta gembira; adapun yang kuning, merah, hitam serta putih itu adalah penghalang hatinya.

11. Sebab isi dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi ke dalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku, kalau mampu menjahui itu, pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menhalangi meningkatkan citra diri, hati yang tiga macam, hitam, merah, kuning semua itu, menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya, akan menyatunya dengan Tuhan Yang Membuta Nyawa lagi mulia.

12. Jika tidak tercampur oleh tiga hal itu, tentu terjadi hilangnya jiwa, abadi senantiasa berdekatan rapat, nemun perlu diperhatikan dan diingat, dengan saksama, bahwa penghalang yang ada di hati, mempunyai kelebihan yang perlu kamu ketahui, dan sumber inti kekuatannya; yakni hitam lebih perkasa, pekerjaannya marah mudah sakit hati, angkara murka secara membabi buta.

13. Itulah hati yang mengahalangi, menutup kepada kebijakan, yang demikian itulah pekerjaan si hitam; Sedang yang berwarna merah, ikut menunjukkan nafsu yang tidak baik, segala keinginan nafsu keluar, dari si merah, mudah emosi dalam mencapai tujuan, hingga menutupi kepada hati yang sudah jernih tenang, menuju akhir hidup yang baik (khusnul khotimah).

14. Adapun yang berwarna kuning, kemampuannya menanggulangi segala hal, pikiran yang baik akan menjadikan pekerjaan semakin baik, hati kuninglah yang menghalangi timbulnya pikiran yang baik, hanya membuat kerusakan, menelantarkan ke jurang kehancuran; Sedangkan yang putih itulah yang sebenarnya, membuat hati tenang serta suci tanpa ini itu, pahlawan dalam kedamaian.

15. Hanya itulah yang dapat dirasakan manusia, akan kesaksiannya sesungguhnya yang terwujud adanya, hanya menerima kanugrahan semata-mata, hanya itulah yang dapat dilaksanakan. Kalau tetap berusaha agar abadi berkumpulnya diri dekat Tuhan, maka senantiasa menghadapi tiga musuh, yang sangat kejam besar dan tinggi hati (sobong), ketiga musuhmu itu saling kerjasama; Padahal si putih tanpa teman, hanya sendirian saja, makanya sering dapat dikalahkan.

16. Kalau sekiranya dapat mengatasi, akan segala kesukaran yang timbul dari tiga hal itu, maka jadilah persatuan erat terwujud, tanpa berpedoman itu semua tidak akan terjadi persatuan erat antara manusia dan penciptanya. Syeh Melaya sudah memahaminya dengan semangat mulia berusaha, diserta tekad membaja, demi mendapatkan pedoman akhir kehidupan, demi kesempurnaan dekatnya dengan Allah SWT.

17. “Setelah hilang empat macam warna ada hal lain lagi, nyala satu delapan warnanya”, Syeh Melaya pelan berkata, “Apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah yang dimaksud sebenarnya? Nyalanya semakin jelas nyata, ada yang seperti ratna bersinar (mutiara berkilau), ada yang nampak berubah-rubah warna menyambar-nyambar, ada yang seperti permata yang berkilat-tajam sinarnya”.

18. Sang luhur budi Nabi Khidir berpesan, “Hiya itulah sesungguhnya tunggal. Pada dirimu sendiri sudah tercakup makna di dalamnya, rahasianya terdapat pada dirimu juga, serta seluruh isi bumi, tergambar pada tubuhmu, dan juga seluruh alam semesta; Dunia kecil tidak jauh berbeda; Ringkasnya utara barat selatan itu, timur dan atas serat bawah”.

19. “Juga warna hitam merah kuning putih, itulah isi kehidupan dunia, dunia kecil dan alam semesta, dapat dikatakan sama isinya, kalau ditimbang dengan yang ada dalam dirimu ini, kalau hilang warna yang ada, dunia kelihatan kosong, kesulitannya tidak ada, dikumpulkan kepada wujud rupa Yang Satu, tidak lelaki tidak pula perempuan”.

20. “Sama pula bentuk dengan bentuk yang ada ini, yang bila dilihat berubah-ubah putih, camkanlah dengan cermat semua ini”, Syeh melaya mengamati, yang seperti cahaya berganti-ganti kuning, cahayanya terang-benderang memancar, melingkar mirip pelangi, apakah itu yang dimaksudkan, wujud dari Dzat yang dicari dan didambakan? Yang mmerupakan hakikat wujud sejati?”.

21. Nabi Khidir menjawab dengan lemah-lembut, “Itu bukan yang kau dambakan, yang dapat menguasai segala keadaan; Yang kamu dambakan tidak dapat kamu lihat, tiada berbentuk apalagi berwarna, tidak berwujud garis, tidak dapat ditangkap mata, juga tidak bertempat tinggal, hanya dapat dirasakan oleh orang yang awas mata hatinya, hanya berupa penggambaran-penggmabaran (simbol) memenuhi jagad-raya, dipegang tidak dapat”.

22. Bila kamu lihat, yang nampak seperti seperti berubah-ubah putih, yang terang-benderang sinarnya, memancarkan sinar yang menyalanyala, Sang Permana itulah sebutannya, hidupnya ada pada dirimu; Permana itu, menyatu pada dirimu sendiri, tetapi tidak ikut merasakan suka dan duka, tempat tinggalnya pada ragamu.

23. Tidak ikut suka dan duka, juga tidak ikut sakit dan menderita, dan jika Sang Permana meninggalkan tempatnya, raga menjadi tidak berdaya, dan pasti lemahlah seluruh badanmu, sebab itulah letak kekuatannya; Ikut merasakan, kehidupan bersama nyawa, yaitu yang berhak merasakan kehidupan, yang mengerti rahasia di dunia.

24. Dan itulah yang sedang mengenai pada dirimu, seperti diibaratkan bulu pada hewan, yang tumbuh di sekitar raga, hidupnya karena adanya Permana, dihidupi oleh nyawa yang mempunyai kelebihan, menguasai seluruh badan, Permana itu bila mati ikut menanggung, namun bila telah hilang nyawa, kemudian yang hidup hanyalah sukma / nyawa yang ada.

25. Kehilangan itulah yang didapatkan , kehidupan nyawalah yang sesungguhnya, yang sudah berlalu diibaratkan, seperti rasanya pohon yang tidak berbuah, Sang Permana yang mengetahui dengan sabar, sesungguhnya satu asal, perhatikan secara seksama penjelasan tadi. Menjawablah Syeh Melaya, “Kalau begitu manakah warna bentuk yang

sebenarnya?”. Nabi Khidir berkata.

26. “hal itu tidak dapat kau pahami di dalam keadaan nyata semata-mata, tidak semudah itu untuk mendapatkannya”, Syeh Melaya menyela pembicaraan, “Saya mohon pelajaran lagi, sampai paham betul, sampai tuntas. Saya menyerahkan hidup dan mati, demi mengharapkan tujuan yang pasti, jangan sampai tanpa hasil”.

Share this article :

No comments:

Post a Comment