Home »
KITAB-KITAB
» Terjemah Suluk Linglung Sunan Kalijaga I
Terjemah Suluk Linglung Sunan Kalijaga I
KUMBANG MENGHISAP MADU (PUPUH I)
DHANDHANGGULA
Episode I : Sunan Kalijaga berhasrat besar mencari ilmu yang menjadi pegangan para Nabi Wali, ibaratnya kumbang ingin menghisap madu / sari kembang.
1. Bulan Jumadilawwal mulai menarika pena, Senin Kliwon tanggal pertama, tahun Je saat orang menuai padi, prasasti penulisan, “Ngerasa sirna sarira Ji”, disadur dari buku Duryat yang masyhur, maka mohon pengertiannya, bagi pembaca buku ini agar sudi, memberikan maaf.
2. Syahban kisah seorang Alim Ulama yang cerdik pandai, yang sudah dapat merasakan mati, mati di dalam hidup, besar keinginannya, memperoleh petunjuk dari seorang yang sudah menemukan hakikat kehidupan, yang menyebabkannya melakukan perjalanan, tidak mempedulikan dampak yang terjadi, bernafsu sekali karena belum memperoleh petunjuk, petunjuk yang dipegang para Nabi Wali, itulah tujuan yang diharapkan semata-mata.
3. Ling lang ling lung (hati bimbang pikir bingung) masih tetap mengabdi, walaupun tanpa ada yang membantu, selalu tergoda oleh nafsunya, karena tidak mampu mengatasinya, berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi / mengobati nafsunya, jangan sampai terlanjur terlatur, puas makan dan tidur, sebab hatinya kalah perang dengan nafsunya, hanya Allah tempat berserah diri.
4. Ling lang ling lung memohon kepada Tuha Yang Terpilih, semoga dibukakalah oleh Tuhan Pembuat Nyawa, sehingga terasa ditenteramkan hatinya, selaras dengan kehendak hatinya, jalan menuju sembah dan puji, dari keputusasaan hati, sehingga berdoa, tapi tidak mungkin dimaafkan oleh Tuhan, sebab tidak dapat beribadat dan bersyukur, acakacakan tanpa disadarinya pengetahuan.
5. Ling lang ling lung akhirnya diam sendiri, tanpa teman tetapi masih saja ada gejolak batin, saling bertengkar dengan dirinya sendiri, suaranya tidak lantah / jauh, tapi bukankah pertengkaran hebat itu tidak akan ada henti-hentinya? Bukankah saling merebut kemenangan?padahal tidak ada yang disebutkan! Kalau diibaratkan seperti perebutan Kerajaan Ngastina, sehingga lupa saudara bapak anak istri, jiwa raga pun tidak dihitung.
6. Ling lang ling lung tak tahu malu, karena didesak, oleh hasrat mengetahui petunjuk, akhirnya diusahakan mampu bertapa dan berlapar-lapar, kalau ada teman datang, ikut makan dengan rakusnya, kalau temannya pergi, tidak makan seumur hidupnya, sebab tidak ada yang dimakan, ling lang ling lung menuruti kesenangan memperindah diri, selalu meminta upah.
7. Ling lang ling lung meminta upah tiada hasil, menagih tak hentihentinya tanpa piutang, yang ditagih diam saja memang kenyataannya tidak berhutang, yang menagih datang pergi, semua itu tidak bedanya, dengan Syeh Melaya sendiri, di saat mulai berguru dan bertapa, kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintahkan menunggui tongkat, dan dilarang meninggalkan tempat.
8. Ling lang ling lung bukankah dapat dikatakan orang hebat, keinginannya yang kuat serta tekad batinnya, bila dibandingkan dengan yang lainnya, ada manusia berdarah luhur, putra Tuban Rahaden Syahid, waktu tua bergelar Sunan Kalijaga, rupanya sudah lebih dulu mendapat anugerah Kasih Sayang Tuhan Allah Pencipta Nyawa yang sudah menjadi kemuliaan Tuhan Yang Terpilih, keluar dari kasih Sayang Allah (Mahabbatullah).
RINDU KASIH SAYANG (PUPUH II)
ASMARADANA
Episode II : Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang, serta wejangan-wejangan (petunjuk-petunjuk) yang diterimanya.
1. Penulis sangat tertarik, akan cerita yang ia dengar, pada zaman dulu ada sebuah kisah, Kanjeng Sunan Kalijaga, ketika mencari hakikat hidup, berguru kepada orang yang tinggi ilmunya, bersunyi diri di desa Benang.
2. Berguru menuntut ilmu sudah cukup lama, namun merasa belum mendapat manfaat yang nyata, rasanya Cuma penderitaan yang didapat, sebab disuruh memperbanyak bertapa, oleh Kanjeng Sunan Bonang, diperintahkan menunggui pohon gurda sudah dilaksanakan, tidak diperbolehkan meninggalkan tempat.
3. Berada di tengah hutan belantara, tempat tumbuhnya pohon gurda yang banyak sekali, dengan tenggang waktu setahun lamanya, kemudian disuruh “ngaluwat” ditanam di tengah hutan. Setahun kemudian dibongkar, oleh Kanjeng Sunan Bonang.
4. Kemudian diperintahkan pindah, Tafakur (merenung) di tepi sungai yang nantinya beralih menjadi nama sebutannya (Kalijaga = menjaga sungai), setahun tidak boleh tidur, ataupun makan, lalu ditinggal ke Mekah, oleh Sunan Bonang.
5. Nyata sudah genap setahun, Syeh Melaya ditengok, ditemui masih tafakur saja, Kanjeng Sunan Benang berkata, Eh Jebeng (anak) sudahilah tafakurmu, berjuluk kamu Wali, penutup yang ikut menyiarkan agama.
6. Perbaikilah ketidak aturan yang ada, agama itu tata krama, kesopanan untuk kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui, bila kau berpegang kepada syariat, serta segala ketentuan iman hidayat, hidayat itu dari Tuhan Allah yang Maha Agung, yang sangat besar kanugrahan-Nya.
7. Kanugrahan Tuhan Allah, meliputi dan menimbulkan keluhuran budi, adapun kekuasaan-Nya menumbuhkan kekuatan luar biasa dan keberanian, serta meliputi segala kebutuhan perang, yang demikian itu tidak lain adalah anugrah yang besar, paling utama dari segala yang
utama (keutamaan).
8. Keutamaan ibarat bayi, siapa pun ingin memelihara, yang mencukupi bayi, menguasai pula terhadap dirimu, tapi kamu tak punya hak menentukan, karena kau ini juga yang menentukan Tuhan Allah Yang Maha Agung, karena itu mantapkanlah hatimu dalam pasrah diri pada-Nya.
9. Syeh Melaya berkata pelan, sungguh hamba sangat berterima kasih, semua nasihat akan kami junjung tinggi, tapi hamba memohon kepada guru, mohon agar sekalian dijelaskan, tentang maksud sebenarnya dari sukma luhur (nyawa yang berderajat tinggi), yang tadi diberi istilah iman hidayat.
10. Yang harus mantap berserah diri kepada Tuhan Allah, yang mana yang dimaksud sebenarnya, homba mohon penjelasan yang sejelasjelasnya; kalau hanya ucapan semat, hamba pun mampu mengucapkannya, tapi kalau menemui kesalahan hamba ibarat asap belaka, tanpa guna menjalankan semua yang kukerjakan.
11. Kanjeng Sunan Bonang menjawab, “Syeh Melaya benar ucapanmu, pada saat bertapa kau bertemu denganku, yang dimaksud berserah diri ialah, selalu ingat prilaku / pekerjaan, seperti ketika awal mula diciptakan, bukankah itu sama halnya seperti asap?.
12. Itu tadi seperti hidayat wening (petunjuk yang jernih), serupa dengan iman hidayat, apakah itu nampak dengan sebenarnya? Namun ketahuilah itu semua, tidak dapat diduga sebelumnya dan sesudahnya, sekalipun kau gunakan, dengan mata kepala.
13. Aku ini juga sepertimu, ingin juga mengetahuinya, tentang hidayat yang sejelas-jelasnya, tapi aku belum mempunyai kepandaian untuk meraihnya, kejelasan tentang hidayat, hanya keterangan yang saya percayai, karena keterangan ini berasal dari sabda Tuhan Allah.
14. Berkata Kanjeng Sunan Kalijaga, “Bapak guru yang bijaksana, hamba mohon dijelaskan, apakah maksudnya, ada nama tanpa sifat, ada sifat tanpa nama? Saya mohon petujuk, tinggal itu yang ingin saya tanyakan yang terakhir kali ini saja”.
15. Sunan Bonang berkata lemah-lembut, “Kalua kamu ingin keterangan yang jelas tuntas, matikanlah dirimu sendiri, belajarlah kamu tentang mati, selagi kau masih hidup, bersepi dirilah kamu kehutan rimba, tapi jangan sampai ketahuan manusia!”.
16. Sudah habis segala penjelasan yang perlu disampaikan, Kanjeng Sunan Bonang segera meninggalkan tempat, dari hadapan Sunan Kalijaga, timur laut arah langkah yang dituju, kira-kira baru beberapa langkah berlalu, Syeh Melaya ikut meninggalkan tempat itu, masuk hutan belantara.
17. Untuk menjalankan laku kijang, berbaur dengan kijang menjangan, bila mana ingin tidur, ia mengikuti cara tidur terbalik, seperti tidurnya kijang, kalau pergi mencari makan mengikuti, seperti caranya anak kijang.
18. Bila ada manusia yang mengetahui, para kijang berlari tunggang langgang, Jeng Sunan Kalijaga ikut berlari kencang, larinya dengan merangkak, seperti larinya kijang, pontang-panting jangan sampai ketinggalan, mengikuti sepak terjang kijang.
19. Nyata sudah cukup setahun, Syeh Melaya menjalani laku kijang, bahkan melebihi dari yang telah ditetapkan; ketika itu Jeng Sunan Bonang, bermaksud shalat ke Mekah, dalam sekejap mata sudah sampai, setelah shalat segera datang kembali.
20. Kanjeng Sunan Bonang menuju hutan, melihat kijang sama berlari, sedang anaknya sempoyongan mengikuti, Sunan Bonang ingat dalam hati, kalau ada Wali berlaku seperti laku kijang, Syeh Melaya namanya, segera ia mendekati.
21. Syeh Melaya berusaha lari menjahui, larinya tunggang langgang, tanpa memperhitungkan jurang tebing, ditubruk tidak tertangkap, dijaring dan diberi jerat, kalau kena jerat dapat lolos, kalau kena jaring dapat melompati.
22. Marhlah sang guru Sunan Bonang, bersumpah di dalam hatinya, “Wali Waddat pun aku tak peduli, memanaskan hati kau kijang, bagiku memegang angin, yang lebih lembut saja tidak pernah lolos, yang kasar mungkinkah akan gagal!.
23. Kalau tidak berhasil sekali ini, lebih baik aku tidak usah jadi manusia, lebih pantas kalau jadi binatang saja!” bergerak penuh amarah jeng Sunan Benang, dan berusaha menciptakan nasi, tiga kepal tangan telah di siapkan, dan mundur siap dibuat melempar kijang.
PUPUH III
DURMA
Episode III : Sunan Kalijaga diperintahkan ibadah haji ke Mekah dan bertemu dengan Nabi Khidir di tengah samudera.
1. Sunan Bonang segera menerobos, ke dalam hutan yang lebih lebat dan sulit dilewati, setelah benar-benar menemukan, yang sedang laku kijang, yang tengah berlari segera dilempar, dengan nasi satu kepal, tepat mengenai punggungnya.
2. Syeh Melaya agak lambat larinya, lalu lemparan yang kedua, mengenai lambungnya, jatuh terduduk Syeh Melaya, kemudian dilempar lagi, nasi satu kepal, ingat dan sadar kemudian berbakti pada Sunan Bonang.
3. Dia berlutut mencium kaki Sunan Bonang, berkata sang guru Sunan Bonang, “Anakku ketahuilah olehmu, bila kau ingin mendapatkan kepandaian, yang bersifat hidayatullah, naiklah haji, menuju Mekah dengan hati tulus suci / ikhlas.
4. Ambilah air zam-zam ke Mekah, itu adalah air yang suci, serta sekaligus mengharap berkah syafaat, Kanjeng Nabi Muhammad yang menjadi suri tauladan manusia; Syeh Melaya berbakti, mencium kaki, mohon diri dan segera menuju tujuan.
5. Sunan Bonang sudah lebih dulu melangkah kaki, menuju desa Benang yang sepi, dan selanjutnya kita ikuti, perjalanan Syeh Melaya, yang berkehendak naik haji, menuju Mekah, dia menempuh jalan pintas.
6. Menerobos hutan, naik gunung turun jurang, tetebingan didakinya, sampai tepi pantai, hatinya bingung, kesulitan menempuh jalan selanjutnya.
7. Terhalang oleh samudera yang luas, sejauh mata memandang tampak air semata. Dia diam tercenung lama sekali memutar otak mencari jalan yang sebaiknya ditempuh, di tepi samudera. Syahban tersebutlah seorang manusia, yang bernama Sang Pajuningrat, mengetahui kedatangan seorang yang tengah bingung (Syeh Melaya).
8. Sang Pajuningrat tahu segala perjalanan yang dialami, oleh Syeh Melaya dengan sejuta keprihatinan, karena ingin meraih hidayat; berbagai cara telah ditempuh, juga melalui penghayatan kejiwaan dan berusaha mengungkap berbagai rahasia yang tersembunyi, namun mustahil dapat menemukan hidayat, kecuali kalau mendapatkan
kanugrahan Allah yang Haq.
9. Syeh Melaya sudah terjun, merenangi lautan luas, tidak mempedulikan nasib jiwanya sendiri, semakin lama Suek Melaya, sudah hampir di tengah samudera, mengikuti jalan untu mencapai hakikat yang tertinggi dari Allah, tidak sampai lama, sampailah di tengah samudera.
10. Ternyata setelah Sunan Kalijaga, ada di tengah samudera, penghatannya melihat seseorang, yang sedang berjalan tenang diatas air, yang berjuluk Nabi Khidir, yang tidak diketahui dari mana datangnya, bertanya dengan lemah lembut.
11. “Syeh Melaya apa tujuanmu? Mendatangi tempat ini? Apakah yang kau harapkan? Padahal disini tidak ada apa-apa?! Tidak ada yang dapat dibuktikan, apalagi untuk dimakan, juga untuk berpakaian pun tak ada”.
12. Yang ada hanyalah daun kering yang tertiup angin, jatuh di depanku, itu yang saya makan, kalau tidak ada tentu tidak makan, senangkah kamu dengan melihat ini semua? Kanjeng Sunan Kalijaga, heran mengetahui penjelasan itu.
13. Nabi Khidir berkata lagi kepada Sunan Kalijaga, “Cucuku di sini ini, banyak bahayanya, kalau tidak mati-matian berani bertaruh nyawa, tentu tidak mungkin sampai di sini, di tempat ini, segalanya tidak ada yang dapat diharapkan hasilnya”.
14. “Mengandalkan pikiranmu saja masih belum apa-apa, padahal kamu tidak takut mati, kutegaskan sekali lagi, disini tidak mungkin kau dapatkan yang kau maksudkan!”. Syeh Melaya bingung hatinya tidak tahu apa yang harus diperbuat, dia menjawab, bahwa dia tidak mengetahui akan langkah yang sebaiknya perlu ditempuh selanjutnya.
15. Semakin pelan ucapan Syeh Melaya, Terserah bagaimana baiknya sang guru Nabi Khidir menebak, “Apakah kamu juga, sangat mengharapkan hidayatullah (petunjuk Allah?” Akhirnya nabi Khidir menjelaskan, “Ikutilah petunjukku sekarang ini!”.
16. “Menjalankan petunjuk gurumu, Sunan Bonang sang guru, memberi petunjuk padamu, menyuruh menuju kota Mekah, dengan keperluan naik haji, maka ketahuilah olehmu, sungguh sulit menjalankan lika-liku kehidupan itu”.
17. “Jangan pergi kalau belum tahu yang kutuju, dan jangan makan juga, kalau belum tahu rasanya, rasanya yang dimakan, jangan berpakaian juga, kalau belum tahu juga kegunaan berpakaian”.
18. “Lebih jelasnya tanyalah sesama manusia, sekaligus dengan persamaannya, kalau sudah jelas amalkanlah! Demikianlah seharusnya hidup itu, ibarat ada orang bodoh dari gunung, akan membeli emas, oleh tukang emas diberi”.
19. “Biarpun kuningan tetap dianggap emas mulia, demikianlah pula dengan orang berbakti, bila belum yakin benar, pada siapakah yang harus disembah?” Syeh Melaya ketika mendengar itu, spontan tertunduk berlutut mohon belas kasihan, stelah mendapati kenyataan bahwa Nabi Khidir betul-betul serba tahu yang terkandung di hatinya.
20. Dengan duduk bersila dia berkata, “Yang kami dengar akan kami laksanakan”. Syeh Melaya meminta kasih sayang, memohon keterangan yang jelas, “Sidpakah nama tuan? Mengapa di sini sendirian?”. Sang Pajuningrat menjawab, “Sesungguhnya saya ini Nabi Khidir”.
21. Syeh Melaya berkata, “Saya menghaturkan hormat sedlam-dalamnya kepada tuan junjunganku mohon petunjuk, adapun saya perlu dikasihani;nSaya juga tidak tahu benar tidaknya pengabdianku ini. Tidak lebih bedanya dengan hewan di hutan, itupun masih tidak seberapa, bila mau menyelidiki kesucian diriku ini.
22. Dapat dikatakan lebih bodoh dungu serta tercela di jagad, menjadi bahan tertawaan di muka bumi; Saya ibarat keris, tanpa kerangka keris, ibarat bacaan yang tanpa isi yang tersirat. Maka berkata dengan manisnya Sang Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment